Nirwala: Pramadhia Bhumi
Bulan purnama tertutup bayang mendung. Malam itu. Dari balik bintang gunung tinggi menjulang berjubah biru tersenyum pada tanah lapang dirundung gerimis. Di genggamnya ada pesan jingga yang dilemparkannya pada kereta kencana yang lewat sekedarnya bersama berlaksa butiran salju bersenjata perak berperisai tembaga. Letup demi letup ingat merangkai menjadi nada sayup mendesing menembus pundak kanan lalu menancap sedepa dari gendang telinga.
Ya Amur, sang penguasa kesunyian, engkaukah itu yang menitipkan kilap pucuk tombak melalui angin dingin helaan nafas sang putri salju? ke mana pisau kayumu? kenapa tak kau biarkan aku menampak rajah mantra di punggungmu? sementara gigil ini nyaris beku oleh dini hari.
Bulan purnama masih tertutup bayang mendung.
[Kartum, 23.03.2008]
