Nirwala: Nareshvari Upavatha
bulan purnama yang lalu tak memberi apa-apa pada kepastian. yang ada hanya air pasang yang malas-malasan menggerus pasir pantai dan menariknya ke dasar samudra. perempuan itu berlalu dengan senyum di bibirnya dan perih di dada. rambutnya basah oleh sisa airmata senja. padang itu sunyi. cuma suara tetes darah putih menggema dari bibir merah yang lumat oleh rintih. lidah api yang merambat sepanjang salib kayu mahoni tak juga debukan jubah biru yang berkibar bagai bendera perang di kurusetra. hidup tak jadi menghampiri, mati pun enggan pergi. perempuan itu berlalu dengan senyum di bibirnya dan perih di dada. rambutnya basah oleh sisa airmata senja. di belakangnya ada dendam dan rindu terengah mengejar sambil mengacungkan senjata ke udara. padang itu sunyi.
[04.10.2005]

