Nirwala: Meshva Mahapramesthi
deras arus sungai menyuara merupa hujan semusim tumpah di tempayan dalam semalam mengusik ketenangan geliat raja naga dan barisan lentera-lentera batu di iringan. bulan purnama meronta pucat di genggaman bersama meninggi kepul asap pertempuran dan meranggas ilalang padang, kala sesosok rupawan bergelung cambuk berkalung tombak beranting perisai muncul dari balik selendang waktu yang silam dan berdarah membawa pesan-pesan pendek bertanda senyum dan keterkejutan, bermetamorfosa menjadi sebuah belahan de javu yang keterlaluan, menghasut otak kiri dan kanan meleleh alir lewati gendang telinga mengadu nyawa berebut kenangan. Tinggalkan hening diam entah di mana.
[Gadog, 29 Oktober 2004]


Comments