Nirwala: Pramadhia Bhumi

March 27th, 2008 by agungyudha

Bulan purnama tertutup bayang mendung. Malam itu. Dari balik bintang gunung tinggi menjulang berjubah biru tersenyum pada tanah lapang dirundung gerimis. Di genggamnya ada pesan jingga yang dilemparkannya pada kereta kencana yang lewat sekedarnya bersama berlaksa butiran salju bersenjata perak berperisai tembaga. Letup demi letup ingat merangkai menjadi nada sayup mendesing menembus pundak kanan lalu menancap sedepa dari gendang telinga.
Ya Amur, sang penguasa kesunyian, engkaukah itu yang menitipkan kilap pucuk tombak melalui angin dingin helaan nafas sang putri salju? ke mana pisau kayumu? kenapa tak kau biarkan aku menampak rajah mantra di punggungmu? sementara gigil ini nyaris beku oleh dini hari.
Bulan purnama masih tertutup bayang mendung.

[Kartum, 23.03.2008]

Nursi

August 22nd, 2007 by agungyudha

Kabut kelabu pekat itu menggelinding liar ke kanan dan kiri.
Melintasi batu dan pepohonan yang liar ranggas di tepian tanah ladang
terbengkalai entah sejak kapan. Dari balik kilat lidah api unggun sepasang mata
resah memikirkan sebuah pencarian yang belum kunjung usai. Teronggok pula sang
putih bersemangat sayu berharapan ragu membincang panjang lebar tentang
perjalanan dan jarak tempuh sedepa demi sedepa yang berwindu sudah dijalani.
Gerai kelam tersampir di bahu. Selamanya begitu.

[08.08.2007]

Nirwala: Sangkalaswarna

August 7th, 2006 by agungyudha

Kepada ombak yang menyapih barisan karang di bibir pantai itu ia mendongak. Riak sendu diam. Ingatan mundur barang beberapa depa pada puncak gunung salju yang menoleh tersenyum tentram di sebuah siang yang terik di hulu tempat jeram bermula. Ia rindu pada sinar-sinar biru yang merajam tubuh dan sukma. Ia rindu pada nyala mata yang menghidupi petani-petani di ladang desa. Ia rindu pada derap kuda yang melintasi sungai dengan telapak terluka. Ia rindu pada purnama: yang tak lagi hadir dan gurau di tepi samudra.

[Pejaten, 08.08.2006]

Nirwala: Nareshvari Upavatha

October 4th, 2005 by agungyudha

bulan purnama yang lalu tak memberi apa-apa pada kepastian. yang ada hanya air pasang yang malas-malasan menggerus pasir pantai dan menariknya ke dasar samudra. perempuan itu berlalu dengan senyum di bibirnya dan perih di dada. rambutnya basah oleh sisa airmata senja. padang itu sunyi. cuma suara tetes darah putih menggema dari bibir merah yang lumat oleh rintih. lidah api yang merambat sepanjang salib kayu mahoni tak juga debukan jubah biru yang berkibar bagai bendera perang di kurusetra. hidup tak jadi menghampiri, mati pun enggan pergi. perempuan itu berlalu dengan senyum di bibirnya dan perih di dada. rambutnya basah oleh sisa airmata senja. di belakangnya ada dendam dan rindu terengah mengejar sambil mengacungkan senjata ke udara. padang itu sunyi.

[04.10.2005]

Nirwala: Mahangkara Laya

August 31st, 2005 by agungyudha

Hati perih serupa luka tergores getir sinar-sinarmu yang menghijau biru.
Hentikanlah, atas nama kisah.
Badan ringkih penuh hitam ini nyaris tak sanggup lagi menyusun bebat membendung gelimpangan nyeri tak tertahankan.
perlukah kularik dengan bunga matahariku, dan jadikan kita semua binasa.
Atau kau lebih suka menancap jantungku dengan pedang tujuh anasirmu dan membiarkan bumi, kayu, api, dan air larut bersama aliran darah kematian dan kenangan?

[02.08.2005]

Nirwala: Ranjana Chakra

March 31st, 2005 by agungyudha

Sepasang bintang singgah sejenak di dekat papan penunjuk arah, dengan mata mata yang resah mencari ekor mereka yang melepaskan diri meski tidak terancam mati. Adakah ia pergi berkendara awan yang tak lazim memisahkan diri dari gerombolan debu mendung yang bergerak menuju gerbang kotaraja siap melontarkan panah-panah kristal es pada dinding batu mencoba meruntuhkan congkak yang tersisa dari kaisan makanan basi yang tercampak di latar-latar lapang.

Sang langkah sempat tegun sesaat, sekejapan mata elang yang tak lagi nyalang meski tak sepotong nyawa pun lepas oleh rengkuhan cakramnya. Dimanakah kini hamparnya ladang bunga matahari?

[24.03.2005]

Nirwala: Meshva Mahapramesthi

October 31st, 2004 by agungyudha

deras arus sungai menyuara merupa hujan semusim tumpah di tempayan dalam semalam mengusik ketenangan geliat raja naga dan barisan lentera-lentera batu di iringan. bulan purnama meronta pucat di genggaman bersama meninggi kepul asap pertempuran dan meranggas ilalang padang, kala sesosok rupawan bergelung cambuk berkalung tombak beranting perisai muncul dari balik selendang waktu yang silam dan berdarah membawa pesan-pesan pendek bertanda senyum dan keterkejutan, bermetamorfosa menjadi sebuah belahan de javu yang keterlaluan, menghasut otak kiri dan kanan meleleh alir lewati gendang telinga mengadu nyawa berebut kenangan. Tinggalkan hening diam entah di mana.

[Gadog, 29 Oktober 2004]

Nirwala: Kaliyuga Murkha

March 31st, 2004 by agungyudha

kabut uap bersedekap pucat di sudut dharmacakra. sekedar menatap. tak perlu airmata jajari perginya penguasa langit. hitam dan putih lebur sudah jadi debu abu-abu tumpah ke samudra lewati bibir cawan tembaga jadi niskala. karma itu sekedar paradoks, luput dari cerna sang yogiswara. pataka.

tiada gelegar meriam atau dentam gumam japamantra melainkan ayun gada raksasa dwarapala mengejap melarik membuka gerbang sakala, biarkan barisan sukma bertolak dari genggam para raja. sedepa dua depa sejenak lagi perlaya. jangan harap jadi moksa.

[04 Februari 2004]

Nirwala: Maha Nirswara

October 31st, 2003 by agungyudha

(: diam)

rajahan di sekujur punggung
dan ukiran serat pisau kayu
tebarkan banyak cerita tak tersampaikan
melesat dari satu pilar ke pilar lain
menuju gelap bukit belantara
memondong misteri dalam pelukan

[07 Oktober 2003]

Nirwala: Vadhitya Shivapala

September 30th, 2003 by agungyudha

Ia datang dan pergi sesuka hati, sayangku. Bersama pagutan kisah lampau yang narasinya terpatah-patah. Otak ini miring ke kanan mencoba memilin kepang reranting yang urai tebar lagi. Satu-per-satu memayang lamur. Toreh di tangan dan telinga teteskan merah alir gericik, dan kabut kembali membayangi setiap langkah di lorong sempit gelapku. Genggam-demi-genggam yang mengganggu tetirahan. Hitam-demi-hitam yang melekat di sepanjang tepian. Jengah dan jerih yang menjelaga temani malam-malam menyaru diantara rimbunan angin dan desau dongeng ceritamu. Jalan panjang yang kini lalu hanyalah sekelumit persekian detik dari putaran waktu.

[29 Agustus 2003]